“It’s Not True” — Kritik ke Mo Salah Setelah Wawancara Mengejutkan: Teguran untuk Respon Emosional
Newsfootball.id — Dalam sebuah pernyataan mengejutkan usai hasil imbang 3-3 antara Liverpool vs Leeds United, Mohamed Salah menyuarakan kekecewaan mendalam — menyebut klub seperti “mengorbankannya” dan mempertanyakan masa depannya di Anfield. Namun reaksi pedas datang dari mantan pemain dan analis — menyebut pernyataan itu sebagai “emosional”, tak berdasar, dan berpotensi merusak stabilitas tim.
Berikut ulasan lengkap: kronologi, reaksi, dan implikasi setelah ledakan emosional ini.
Kronologi Percikan Konflik

Mohamed Salah (kiri) terlihat frustrasi sebagai pemain pengganti yang tidak dimainkan dalam hasil imbang 3-3 melawan Leeds. (6 Desember 2025)
Pernyataan tersebut memicu gempar — karena datang dari pemain senior berstatus legenda klub serta dua tahun lalu sempat memperpanjang kontrak. Kini, spekulasi soal masa depannya di Liverpool pun makin memanas.
Pada laga Premier League melawan Leeds United (6 Desember 2025), Salah — yang biasanya jadi andalan — duduk di bangku cadangan untuk ketiga kalinya secara beruntun. Klub asuhan Arne Slot bahkan tidak memasukkannya di babak ke-2 meskipun situasi pertandingan sempat berubah.
Usai peluit akhir dibunyikan, dalam wawancara penuh emosi, Salah mengatakan ia merasa klub “mengorbankannya” (threw him under the bus), menuding bahwa ada pihak yang ingin menjadikannya kambing hitam atas situasi buruk tim. Ia juga menyiratkan bahwa jalinan hubungan dengan manajer sudah rusak, dan menyebut kemungkinan besar laga selanjutnya bisa menjadi perpisahan.
Kritik dari Dalam — “Emosional, Tidak Masuk Akal”

Salah merasa dikhianati manajemen, mengklaim janji musim panas tidak ditepati, dan kecewa dengan manajer.
Reaksi keras datang dari kalangan mantan pemain dan pundit — terutama dari mantan gelandang Liverpool, Danny Murphy:
Murphy menegaskan bahwa konflik internal idealnya diselesaikan secara profesional — lewat pintu manajemen atau manajer — bukan dengan pernyataan publik yang bisa merusak reputasi tim.
Menurutnya, banyak pemain besar lain juga mendapat kritik musim ini — bukan hanya Salah — dan semua harus berjuang mempertahankan posisi dengan performa, bukan drama.
Titik Krisis: Hubungan Salah–Liverpool Diduga Retak

Mohamed Salah mengakui bahwa Arne Slot berteriak kepada para pemainnya saat Liverpool menang atas Southampton musim lalu.
Pernyataan Salah bukan sekedar kekecewaan — melainkan sinyal kuat bahwa ada retakan di antara dia dan klub:
- Dia menyebut bahwa banyak janji dari klub saat perpanjangan kontrak tak terpenuhi.
- Ia menyatakan bahwa hubungan dengan manajer berubah drastis: “semula baik, sekarang tak ada hubungan lagi”.
- Di tengah kabar bahwa dirinya akan memperkuat tim nasional pada turnamen mendatang, Salah menyebut bahwa laga berikutnya — melawan Brighton & Hove Albion — bisa jadi pertandingan perpisahan di Anfield.
Situasi ini menimbulkan spekulasi kuat bahwa era Salah di Liverpool bisa segera berakhir — sebuah babak baru yang sulit bagi pemain dan pendukung.
Implikasi untuk Liverpool & Masa Depan Klub
• Stabilitas Tim & Moral Pemain
Pernyataan publik dari ikon klub seperti Salah bisa mempengaruhi atmosfer internal — baik di ruang ganti maupun di antara suporter. Kritik terhadap manajemen bisa memancing keraguan pemain lain.
• Tekanan pada Manajemen & Pelatih
Manajemen dan manajer kini berada di bawah sorotan: pengambilan keputusan, komunikasi internal, dan manajemen ego pemain menjadi sorotan utama. Mereka dituntut mencari solusi cepat agar masalah tidak meluas.
• Potensi Transfer — Akhir Era Salah?
Dengan spekulasi kuat soal kepergian, klub-klub rival bisa mulai memperhatikan — kemungkinan besar dalam bursa transfer mendatang. Bagi Liverpool, kehilangan Salah berarti harus menyiapkan regenerasi atau pembelian pengganti kelas atas.
• Kritik Publik & Gambaran Klub ke Depan
Publik dan media kini melihat sisi lain dari klub — bukan hanya sebagai tim pemenang, tetapi juga sebagai organisasi yang punya konflik internal. Bagaimana mereka menanggapi drama ini akan menentukan reputasi jangka panjang.
Kesimpulan

Wajah kekecewaan Mohamed Salah setelah merasa “dikhianati” oleh Liverpool.
Ledakan emosi dari Mohamed Salah setelah merasa “dikhianati” oleh Liverpool bukan sekadar kritik terhadap penggunaan dia dalam tim. Itu adalah alarm untuk klub: bahwa permasalahan internal — komunikasi, manajemen ego, dan penghargaan terhadap jasa pemain — bisa menjadi bom waktu.
Kritik dari tokoh-tokoh sepak bola seperti Danny Murphy menekankan bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan secara profesional, bukan lewat media. Tetapi pernyataan publik sudah terlanjur mengguncang fondasi — dan konsekuensinya bisa besar: dari krisis moral tim, tekanan pada manajemen, hingga potensi hengkangnya ikon klub.
Bagaimanapun, salah satu pertanyaan besar sekarang: apakah Liverpool bisa meredam gejolak, menyelamatkan reputasi, dan mempersiapkan era pasca-Salah? Waktu, keputusan, dan aksi nyata dari manajemen mungkin akan menentukan banyak hal.
