BolatainmentDuniaEropaNewsRagamSportTrending

VAR Rusak di Piala Afrika 2025, Laga DR Congo vs Benin Jadi Sorotan

Newsfootball.id — RABAT — Insiden teknis kembali mencoreng penggunaan Video Assistant Referee (VAR) di ajang internasional. Kali ini, gangguan tersebut muncul dalam laga Grup D Piala Afrika 2025 antara Republik Demokratik Kongo (DR Congo) dan Benin. Momen itu langsung memicu kontroversi karena terjadi pada situasi krusial yang berpotensi mengubah hasil pertandingan.

Pertandingan yang berlangsung di Al Medina Stadium, Rabat, berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk DR Congo. Gol tunggal Theo Bongonda pada menit ke-16 memang sah. Namun, publik lebih banyak membicarakan insiden VAR yang tiba-tiba tidak berfungsi menjelang akhir laga.

VAR yang seharusnya membantu wasit justru gagal menjalankan perannya. Akibatnya, keputusan penting tidak mendapat tinjauan ulang. Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar terkait kesiapan teknologi dalam turnamen sekelas Piala Afrika.


VAR Sempat Berfungsi, Lalu Mati di Momen Kritis

Sejak awal pertandingan, VAR berjalan normal. Sistem tersebut bahkan menganulir gol kedua DR Congo di awal babak kedua karena posisi offside. Keputusan itu menunjukkan bahwa perangkat VAR berfungsi sebagaimana mestinya.

Masalah muncul pada menit-menit akhir pertandingan. Benin melancarkan serangan ke kotak penalti DR Congo. Bola mengenai tangan Chancel Mbemba dalam situasi yang memancing protes keras dari para pemain Benin.

Wasit utama Abongile Tom sempat menghentikan laga. Ia menerima informasi untuk meninjau insiden tersebut melalui VAR. Namun, saat menuju monitor, tayangan ulang tidak tersedia. Sistem VAR tiba-tiba tidak dapat diakses.

Karena tidak mendapat dukungan visual, wasit memilih melanjutkan pertandingan tanpa memberikan penalti. Keputusan itu langsung memicu ketegangan di lapangan.


Benin Kehilangan Peluang Emas

Bagi Benin, momen tersebut sangat krusial. Penalti berpotensi memberi mereka gol penyama kedudukan. Dalam turnamen dengan format grup yang ketat, satu gol memiliki dampak besar.

Para pemain Benin mengepung wasit dan menuntut penjelasan. Staf pelatih dari pinggir lapangan juga melayangkan protes. Namun, wasit tetap pada keputusannya karena keterbatasan alat bantu.

Benin harus menerima kekalahan tipis. Mereka meninggalkan lapangan dengan rasa frustrasi, bukan hanya karena kalah, tetapi karena merasa kehilangan hak atas keputusan yang adil.


Reaksi Pelatih dan Federasi Benin

Usai pertandingan, pelatih Benin menyampaikan kekecewaannya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa timnya tampil kompetitif dan menciptakan peluang penting. Menurutnya, insiden handball tersebut layak mendapatkan tinjauan VAR.

Ia juga menyebut kegagalan teknologi sebagai faktor yang merugikan timnya. Meski begitu, pelatih Benin tetap meminta pemainnya menjaga profesionalisme dan fokus ke laga berikutnya.

Federasi Sepak Bola Benin mengambil sikap lebih tegas. Mereka mempertimbangkan langkah resmi dengan menyampaikan protes kepada Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Federasi menilai insiden ini mencederai prinsip keadilan kompetisi.


Analisis Teknis Gangguan VAR

Sejumlah analis menilai gangguan VAR ini bukan masalah sepele. VAR bergantung pada jaringan kamera, koneksi data, dan pusat kendali yang stabil. Gangguan pada salah satu komponen dapat melumpuhkan sistem secara keseluruhan.

Beberapa dugaan mengarah pada masalah konektivitas antara stadion dan pusat VAR. Faktor teknis seperti perangkat keras, jaringan, atau pengaturan sistem bisa menjadi penyebab utama. Hingga kini, CAF belum mengumumkan penyebab pasti gangguan tersebut.

Ketiadaan VAR di momen krusial memaksa wasit kembali mengandalkan penilaian langsung. Dalam situasi cepat dan padat pemain, keputusan tersebut rawan kesalahan.


Tanggapan CAF dan Sorotan Publik

CAF mengakui adanya gangguan teknis pada pertandingan DR Congo vs Benin. Melalui pernyataan singkat, CAF menyebut tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem VAR yang digunakan di Piala Afrika 2025.

CAF juga berjanji meningkatkan pengawasan teknis pada laga-laga berikutnya. Mereka menekankan komitmen untuk menjaga integritas kompetisi.

Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredam kritik. Banyak pengamat menilai CAF harus lebih transparan dan memberikan penjelasan teknis yang rinci.


Perdebatan di Kalangan Pengamat Sepak Bola

Insiden VAR ini langsung memicu perdebatan luas. Sejumlah analis menyebut kejadian tersebut sebagai noda besar di turnamen yang seharusnya menampilkan standar tertinggi.

Sebagian pihak menilai VAR justru menciptakan ketidakpastian baru ketika sistem gagal bekerja. Di sisi lain, ada yang menekankan bahwa teknologi tetap lebih baik dibandingkan ketiadaan alat bantu sama sekali.

Namun, hampir semua sepakat bahwa turnamen besar seperti Piala Afrika tidak boleh bergantung pada sistem yang belum sepenuhnya stabil.


Dampak terhadap Persaingan Grup

Kemenangan ini menempatkan DR Congo di posisi strategis dalam klasemen Grup D. Tambahan tiga poin memberi mereka modal penting untuk melaju ke fase gugur.

Sebaliknya, Benin menghadapi tekanan besar. Kekalahan ini mempersempit margin kesalahan pada pertandingan selanjutnya. Setiap poin kini menjadi sangat berarti.

Lebih dari sekadar hasil pertandingan, insiden VAR ini berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan turnamen.


Penutup

Insiden VAR rusak dalam laga DR Congo vs Benin menjadi pengingat keras bahwa teknologi belum sepenuhnya bebas dari risiko. Ketika sistem gagal di momen krusial, dampaknya langsung terasa pada keadilan pertandingan.

CAF kini memikul tanggung jawab besar. Mereka harus memastikan masalah serupa tidak terulang. Tanpa perbaikan nyata, kontroversi VAR berisiko terus membayangi Piala Afrika 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *