Musim 2025: Titik Terendah dalam Karier Hamilton Bersama Ferrari
🔹 Rekor Suram: Tanpa Podium Sepanjang Musim
Newsfootball.id — Menurut laporan terbaru, kolom “podium” untuk Hamilton di musim 2025 bersama Ferrari tetap kosong — tak ada satu pun podium yang ia raih sepanjang 24 balapan.
Lebih parah, ia juga mengalami sejumlah kegagalan lolos kualifikasi (Q1), sebuah hasil yang amat jarang terjadi dalam kariernya.
Hasil buruk ini tentu menjadi peringatan keras: seorang pembalap dengan reputasi dan catatan gemilang — 7 gelar dunia, ratusan podium dan kemenangan bersama tim sebelumnya — kini berada di titik di mana performa dasar dan konsistensi mulai dipertanyakan.
🔸 Kesulitan Adaptasi: Mobil Ferrari SF-25 & Sistem Rem Bermasalah
Salah satu penyebab utama diperkirakan adalah mobil — SF-25 — yang untuk musim ini menunjukkan banyak kelemahan. Hamilton sendiri pernah mengaku kesulitan mengendalikan mobil dalam beberapa seri, termasuk ketika hujan di GP Australia 2025. Menurutnya, setup mobil terasa “sulit dikendalikan”, terutama dengan unit daya baru, kondisi basah, dan perubahan dari kebiasaan sebelumnya.
Tak hanya isu handling — sistem pengereman mobil juga disebutkan sebagai masalah. Hamilton mengaku bahwa perubahan teknis kecil pada rem membuat perbedaan besar dalam kinerja, dan itu mempengaruhi kemampuannya untuk tampil maksimal di lintasan.
Kondisi ini membuat Ferrari — tim yang sangat bergantung pada kecepatan dan presisi teknis — tampil jauh di bawah ekspektasi, dan pembalapnya pun kesulitan mengimbangi kompetitor yang lebih stabil.
🔹 Tekanan & Frustrasi: Dampak Mental bagi Sang Juara Dunia
Tidak heran jika tekanan emosional mulai muncul. Setelah performa buruk di sejumlah balapan, Hamilton pernah menyebut dirinya “tidak berguna” dan sempat mempertanyakan masa depannya, bahkan menyatakan dirinya siap digantikan jika tim menginginkannya — momen yang jarang terjadi dalam kariernya.
Tetapi di sisi lain, dia terus mencoba menjaga motivasi. Meski kecewa, Hamilton menegaskan bahwa ia masih mencintai balapan, dan berusaha menemukan semangat baru bersama Ferrari.
Namun demikian, bagi pengamat dan komentator, musim ini menjadi “ujian besar” bagi reputasinya.
🧑⚖️ Kritik & Penilaian Ahli: Statistik vs Reputasi — Dimana Letak Bahayanya?
⚠️ Penilaian dari Ahli — Musim Ini Bisa Merusak Warisan

Menurut komentator veteran Martin Brundle, musim 2025 bagi Hamilton bersama Ferrari bisa “merusak statistik dan reputasinya.”
Dalam pandangan Brundle dan beberapa analis, ekspektasi besar terhadap duet Hamilton–Ferrari berujung meleset: tak ada podium, hasil buruk di banyak seri, dan bahkan kegagalan dasar seperti lolos kualifikasi. Hal ini dianggap sebagai “kerikil licin” yang bisa mengikis citra juara besar, apalagi jika kondisi serupa berlanjut.
🔎 Struktur Tim & Mobil: Masalah Kolektif, Bukan Sekadar Pembalap
Beberapa pihak menilai bahwa kesalahan bukan hanya dari Hamilton, tapi dari struktur tim dan mobil itu sendiri. Ferrari dianggap gagal menyediakan mobil kompetitif — bukan hanya untuk Hamilton, tetapi juga bagi rekan setimnya Charles Leclerc.
Ini menyebabkan kritik bahwa perekrutan Hamilton bukan semata soal performance — melainkan kombinasi branding, reputasi, dan ekspektasi tinggi, tanpa didukung kesiapan teknis.
🔄 Klausul Kontrak & Masa Depan — Apakah Hamilton Aman di 2026?
Menurut laporan, kontrak Hamilton dengan Ferrari bisa diperpanjang hingga 2027 — tetapi keputusan akhirnya ada pada dirinya sendiri. Dengan kondisi saat ini, banyak pihak bertanya apakah dia akan melanjutkan atau memilih mundur.
Pilihan tersebut menjadi sangat penting — karena jika terus melaju bersama performa buruk, bisa jadi reputasinya akan makin runtuh. Namun, jika mundur, banyak yang melihat itu sebagai pengakuan bahwa “keajaiban” telah berakhir — situasi sulit bagi legenda sekelas Hamilton.
📊 Statistik 2025 & Faktor Pembanding: Dari Puncak ke Jury
Untuk memberi gambaran jelas tentang betapa drastisnya kemerosotan, berikut perbandingan singkat:
| Periode / Tim | Podium / Musim | Prestasi Utama |
|---|---|---|
| 2007–2022 (termasuk era Mercedes) | Ratusan podium, banyak kemenangan dan gelar dunia | 7x Juara Dunia, dominasi era hybrid |
| 2025 bersama Ferrari | 0 podium, beberapa kegagalan lolos kualifikasi | Musim terburuk, gagal tampil kompetitif |
Perbedaan kontras ini membuat banyak penggemar dan pengamat merasa bahwa musim 2025 bisa menjadi noda dalam legacy panjang Hamilton — terutama jika tidak ada perubahan dramatis di 2026.
🛠️ Upaya Perbaikan & Harapan: Mungkinkah Hamilton Bangkit Lagi?
🚗 Fokus ke Mobil 2026 & Regulasi Baru
Ferrari dikabarkan menghentikan pengembangan mobil 2025 dan mulai fokus pada mobil 2026, menyongsong regulasi baru. Hamilton sendiri menyebut bahwa tim memiliki semua komponen untuk menang, dan butuh waktu agar semuanya sinkron.
Jika tim berhasil menyediakan mobil yang sesuai, dan Hamilton mampu beradaptasi lagi, bukan mustahil kariernya bisa “diselamatkan.”
🏁 Motivasi & Mental: Fakta Bahwa Ia Belum Menyerah
Meski frustrasi, Hamilton tetap menunjukkan rasa cinta pada balapan. Dia mengaku siap dan optimistis, berusaha melihat sisi positif dan beradaptasi dengan tim baru.
Tentu, tekanan besar menanti — tapi dengan pengalaman, profesionalisme, dan mental juara, bukan hal mustahil baginya untuk bangkit.
🧩 Evaluasi Kritis: Apakah Kesalahan di Mobil atau di Driver?
Kesuksesan musim depan bergantung pada kombinasi: seberapa baik Ferrari memperbaiki mobil, dan sejauh mana Hamilton bisa menyesuaikan gaya balap dengan karakter mobil baru.
Jika hanya salah satu elemen yang membaik — misalnya mobil bagus, tapi pembalap tak nyaman — hasil tetap bisa gagal. Di sisi lain, jika mobil bagus dan pembalap cepat adaptasi, 2026 bisa jadi titik balik.
📣 Suara Lingkungan F1: Reaksi Publik, Media, dan Komunitas
Efek domino dari performa buruk terasa luas:
- Media Italia dan pengamat mulai menyuarakan ketidakpuasan, menyebut “transfer besar ke Ferrari” sebagai keputusan yang tampak lebih komersial daripada sportif.
- Di komunitas penggemar dan forum diskusi, banyak yang menilai bahwa reputasi Hamilton sebagai “GOAT” mulai dipertanyakan — kalau tidak dibangun kembali segera.
- Namun ada juga dukungan — argumen bahwa satu musim buruk tidak lantas menghapus sejarah gemilang, dan bahwa faktor mobil serta tim sangat dominan di era modern Formula 1.
Salah satu komentar yang mewakili pandangan tersebut:
Kontras pendapat ini menunjukkan bahwa 2026 akan menjadi musim penentu: apakah Hamilton dan Ferrari bisa membuktikan bahwa mereka masih relevan di level tertinggi — atau justru menambah noda dalam sejarah legendaris mereka.
🔮 Skenario ke Depan: Opsi & Risiko bagi Hamilton
Berdasarkan situasi saat ini, berikut beberapa skenario yang mungkin terjadi:
- Phoenix Bangkit — Ferrari memperbaiki mobil, regulasi baru menguntungkan, Hamilton adaptif → kembali ke papan atas, podiun, bahkan kemenangan.
- Stagnasi & Frustrasi — mobil tetap bermasalah, adaptasi gagal → kekecewaan berlanjut; reputasi makin tergerus.
- Pensiun Terhormat — Hamilton memilih berhenti di akhir 2026 — mempertahankan warisan, tanpa tambahan noda lebih lanjut.
- Konflik Internal & Strategi Baru — tekanan besar; tim atau pembalap berganti strategi/mentalitas.
Semua skenario punya peluang — hasil akhirnya tergantung keputusan teknis, adaptasi mental, dan keberanian mengambil risiko.
📝 Kesimpulan: Antara Legenda & Realita — 2025 Jadi Ujian Terberat bagi Hamilton

Musim 2025 bisa jadi terkenal sebagai salah satu periode paling berat dalam karier Lewis Hamilton. Dari puncak dominasi bersama Mercedes ke kekecewaan bersama Ferrari — transisi yang brutal, tetapi juga penuh pelajaran.
Statistik buruk, kritik pedas, dan tekanan besar membuat banyak pihak meragukan masa depannya. Namun di balik semua itu, ada potensi untuk bangkit — jika semua elemen: mobil, tim, pembalap — bisa selaras kembali.
Bagi penggemar, musim depan bukan hanya soal podium atau kemenangan — tapi soal penyelamatan reputasi, warisan, dan pembuktian bahwa nama besar memang layak berdiri hingga akhir.
Dan bagi Hamilton: ini bukan sekadar balapan — ini tentang warisan.
mereka.
